Selasa, 20 Januari 2015

Keindahan Yogyakarta

indahnya berada di yogyakarta

Pesona Yogyakarta bukan hanya parade kereta kuda Royal Wedding Keraton Yogyakarta. Masih ada Monumen Tugu Yogyakarta dan kalau perlu menjelajah sampai Candi Borobudur, dan juga menikmati citarasa kuliner Kota Gudeg.

Weekend telah tiba, saya bersama kakak, sepupu dan temannya berangkat menuju Yogyakarta dengan mengendarai sepeda motor. Kami berniat berkeliling Kota dan berkunjung ke pantai sekitar Gunungkidul. Ketika itu jalur yang kami lalui dari Kota Purwokerto menuju Banyumas, ke timur menuju Sumpiuh, Tambak dan memasuki daerah Gombong, Kebumen. Dari Kebumen dilanjutkan ke jalur alternatif menuju Petanahan yang berjarak sekitar 120 kilometer untuk sampai di Yogyakarta. Jalanan lurus di jalur Selatan ini mampu memotong waktu tempuh menjadi lebih cepat ke arah Wates ataupun Bantul.

Ketika itu kami melewati jalur Wates dan tiba di Yogyakarta pukul 10.30 WIB. Setibanya di Yogyakarta, kami langsung berhenti di kawasan Malioboro dan beristirahat melepas lelah perjalanan. Selang beberapa menit, perut kami mulai kelaparan, kami pun bergegas ke Warung Raminten yang terletak di Jl FM Noto 7, Kotabaru, Yogyakarta. Sebuah restoran dengan konsep Jawa klasik yang sangat kental, diiringi alunan suara gendingan, terlihat juga sesaji yang khas dengan wangi kemenyan.

Para pengunjung terlihat sangat ramai menikmati makan siang di restoran yang mungkin terkenal di seluruh kota Yogyakarta. Uniknya lagi, para pelayan memakai busana Jawa dengan dandanan yang elok. Ketika seorang pelayan mencatat pesanan di meja kami, mereka memegang handy talky sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk memastikan ada atau tidaknya ketersediaan makanan yang akan dipesan. Cukup unik bukan?

Ketika itu, saya memesan ice cream green tea, nasi dan ayam goreng. Menu di restoran ini terbilang cukup khas makanan Yogyakarta dan tentunya menarik untuk dicoba. Harga yang dipatok pun sangat murah dan terjangkau bagi kantong mahasiswa seperti saya. Tak lama , makanan pun disajikan di meja kami. Satu keanehan yang terlihat, dimana piring berukuran jumbo yang dipakai membuat makanan terlihat mungil sekali di tengah-tengah piring tersebut. Saya berpikir, mungkin ini piring-piring yang digunakan keluarga raja di Keraton Ngayogyakarta.

Mencari penginapan adalah aktivitas kami selanjutnya. Kami mengitari jalanan kota Yogyakarta. Hingga sampailah kami di Jalan Taman Siswa. Disana banyak penginapan murah yang bisa kita dapatkan. Saat itu kami check-in di Hotel Cempaka dengan harga Rp 80.000 per malam. Jenis hotel kelas melati yang lebih mirip kamar kos-kosan. Fasilitas yang tersedia adalah fan, kamar mandi, air putih dan juga kasur.

Pukul 17.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Setibanya disana, terlihat banyak pelancong entah dari mana saja. Alun-alun itu memang terkenal dan wajib dikunjungi ketika kita berkunjung ke Yogyakarta. Banyak yang mencoba mitos berjalan lurus melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup di alun-alun. Ketika itu kakak dan sepupuku mencoba melakukan hal tersebut, sedangkan saya lebih memilih berjalan menuju penjual jajanan yang ada di sekitaran alun-alun. Makan sambil mengamati segala kesibukan orang-orang di kala senja. Ada yang naik sepeda, becak dengan lampu hias warna-warni yang mengelilingi jalanan, pengamen jalanan, mobil yang jalan tersendat-sendat, dan hal kompleks lainnya.

Berkunjung ke Yogyakarta tak lengkap bila tidak singgah di Jalan Jenderal Soedirman yang mengarah ke Diponegoro. Ya, disitulah letak Tugu Yogyakarta. Sebuah tugu berwarna putih dengan tulisan Jawa di setiap sisinya, dengan sebuah logam berwarna emas di ujung tugu tersebut. Disana, banyak orang mengabadikan momen di depan landmark Kota Yogyakarta itu.

Saya mendengar banyak bahasa dan logat yang diucapkan oleh para pengunjung, itulah Yogyakarta. Terbukti banyak sekali orang yang mengunjunginya, terlebih di saat musim liburan. Sepulangnya, kami melewati Jalan Malioboro dan menyempatkan untuk mengabadikan suatu momen di plang jalan tersebut. Tampak titik paling ramai oleh orang-orang yaitu di 0 kilometer.

Menikmati suasana Yogyakarta memang bisa dengan bejuta cara. Ketika sudah mengenal aura dan indahnya Kota Yogyakarta maka kita tidak akan bosan untuk berada di sana. Menurut saya, waktu terbaik untuk merasakan itu semua adalah di saat malam hari. Entah mengapa, saya mendapatkan sesuatu yang berbeda dan istimewa di Kota Yogyakarta.

Senin pagi sebelum check out, kami mengubah agenda yang rencana sebelumnya akan mengunjungi pantai daerah Gunungkidul, menjadikan Borobudur sebagai destinasi pilihan di perjalanan kami selanjutnya. Sebelum menuju kesana, kami mampir ke Malioboro dan Pasar Beringharjo untuk sarapan pagi dan membeli oleh-oleh. Kami meninggalkan kota dan melanjutkan ke Kabupaten Magelang pada pukul 11.00 WIB.

Dari sumber internet yang saya baca, untuk menuju kesana kurang lebih membutuhkan waktu satu jam perjalanan normal. Pertama menuju jalur Ring Road Utara, ke Jalan Magelang, sampai di Kabupaten Sleman, masuk ke daerah Tempel, Salam, Muntilan, pusat Kota Magelang yang cukup panas udaranya, lalu ambil arah Purworejo. Lalu rute selanjutnya adalah melewati Candi Mendut dan sampailah di Boroburur.

Disini saya mulai mendapatkan kekecewaan pada Candi Borobudur yang merupakan aset berharga bangsa Indonesia. Sangat disayangkan, jalanannya banyak yang retak-retak dan tak sedikit pula yang berlubang. Harusnya pemerintah setempat lebih perhatian dengan hal sepele semacam itu. Bukankah Borobudur sudah mendunia, masa iya fasilitas umumnya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Anda bisa memarkir motor di parkiran khusus di luar area Borobudur, sedangkan roda empat di dalam area parkiran Borobudur.

Menuju loket masuk dari parkiran kurang lebih berjarak 300 meter. Warung-warung banyak berjejeran di sana. Banyak sekali kegiatan ekonomi yang terjadi di tempat tersebut, dari ibu-ibu yang berjualan topi, kacamata, makanan, minuman, penyewaan payung, dan lain-lain. Harga tiket masuk Borobudur sebesar Rp 30.000. Sebelum masuk kita akan melewati pemeriksaan petugas dan metal detector. Ada peraturan, makanan dilarang dibawa masuk ke dalam area candi. Apabila kita membawa makanan atau oleh-oleh, maka kita bisa menitipkannya di tempat penitipan makanan. Mungkin ini adalah antisipasi demi terjaganya kebersihan lingkungan kompleks candi. Jadi usahakan sebelum memasuki kawasan Candi Borobudur, sebaiknya harus dalam kondisi kenyang.

Memasuki kawasan candi, kita akan menemukan fasilitas kereta yang siap mengantarkan ke depan pintu candi dengan tarif Rp 7.500 sekali jalan. Bila ingin berjalan kaki akan lebih menyenangkan, karena jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter. Tampaklah stupa induk raksasa di bagian atas Borobudur. Sebelum naik ke area candi ada aturan yang diwajibkan petugas disana. Memakai kain batik yang dipakai di pinggang Untuk laki-laki, dan diikatkan di sebelah kanan, sedangkan wanita di sebelah kiri. Ketika di atas candi dilarang melepas kain batik tersebut. Entah apa filosofi akan hal ini dan saya pun lupa untuk menanyakannya kepada petugas disana.

Candi Borobudur adalah kebanggaan Indonesia yang sempurna. Hasil karya cipta nenek moyang Nusantara yang wajib dilestarikan keberadaannya. Dengan susunan batu vulkanik yang jumlahnya jutaan, membentuk relief yang saling menyatu dan hidup, dengan stupa-stupa yang mengelilinginya. Saya terkagum ketika melihat ukiran pahatan relief candi tersebut. Letak candi terletak di sebuah bukit dengan hamparan bukit di sekitarnya. Di atas candi kita bisa melihat pemandangan Kabupaten Magelang yang luar biasa cantiknya. Di sebelah timur laut, terlihat Gunung Merapi dan Merbabu, sedangkan di arah Barat laut ada Gunung Sindoro-Sumbing.

Candi Borobudur memiliki banyak tingkatan, dimana beberapa tingkat pertama bentuknya persegi, sedangkan beberapa tingkat paling atas berbentuk melingkar. Stupa terbesar letaknya ada di tingkatan paling atas. Di tingkatan atas, ada patung Buddha yang tidak berstupa seperti yang lainnya. Kabarnya, stupa tersebut hancur ketika terjadi gempa Yogyakarta beberapa tahun lalu. Faktanya adalah seluruh patung Buddha tersebut tidaklah sama apabila diamati secara lebih detil. Perbedaan ada pada posisi atau sikap tangannya.

Terkait mitos yang ada berdasarkan seorang petugas candi, dulunya sebelum Merapi meletus ada sebuah stupa di tingkatan ketiga dimana ketika kita bisa memegang patung Buddha didalamnya maka keinginan atau impiannya dipercaya bisa tercapai. Ketika itu , saya mencoba memegang patung Buddha yang ada di dalam stupa, sementara kakak saya tidak bisa menjangkau patung tersebut dikarenakan tangannya yang kurang panjang. Itulah mitos, sebuah tradisi nenek moyang Nusantara yang dulunya menganut animisme-dinamisme hingga munculnya Hindu-Buddha. Dilanjutkan dengan masuknya agama. Mitos biasanya berisi nasehat dan pesan yang luhur, namun semakin jauh dari peradaban masa lampau, mitos semakin dikesampingkan.

Menuju pintu keluar candi banyak para pedagang baju, manik-manik, gelang, hiasan, sampai gantungan kunci yang dijual dengan harga relatif. Sepandai-pandainya kita menawar, namun harus juga memperhatikan perjuangan mereka untuk mencari rezeki.

Candi Borobudur adalah sebuah mahakarya manusia atas izin Sang Pencipta. Dengan adanya bangunan megah itu, masyarakat setempat terbantu dan tergerakkan dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata Indonesia. Terimakasih nenek moyang telah menghadiahkan budaya kalian kepada kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar